Cara Tobat Dari Kencanduan Obat Stres Bernama “Makan Aja Lah!” D.R. Tirtasujana, December 12, 2020April 16, 2026 Makan karena stres biasanya tidak menghilangkan stress, malah sering kali menambah berat badan. Tidak usah saya sampaikan pun, kemungkinan besar Anda juga sudah paham kenyataan tersebut. Tapi, kenapa masih ada orang yang melakukannya? “Makan secara emosional” mungkin terjadi pada sebagian besar dari kita, terutama saat kita stres atau mengalami sesuatu yang menegangkan (apakah Anda juga begitu?). Mungkin Anda pernah menghibur diri dengan menjilat habis sebatang es krim setelah hari yang begitu melelahkan atau ngemut coklat sambil curhat ke seorang teman. Jika “emotional eating” adalah hal yang paling sering, bahkan paling pertama, terpikirkan ketika menghadapi perasaan negatif, maka inilah saatnya Anda untuk mencari “jalan lain” Apa itu “Stress Eating”? “Stress Eating” atau “Emotional Eating” adalaah… yaa gitu deh… Seperti namanya, itu adalah saat Anda makan untuk melarikan diri dari kenyataan, menghindari perasaan buruk apapun yang tengah Anda alami. Itu dilakukan dengan harapan aktivitas tersebut (makan) atau objeknya (makanan) akan membuat Anda merasa lebih baik. Dan terkadang, itu adalah keputusan yang dilakukan dengan sadar (tanpa paksaan atau ancaman apapun), misalnya: “Dasar Si Boss! ngeselin banget sih hari ini… Mending aku mesen pizza aja lah…“ Sering juga (malah mungkin lebih sering) ini hanya respon yang tidak masuk akal terhadap emosi negatif yang samar-samar, “gak jelas”, dan sebenarnya Anda juga tidak memahami emosi tersebut. Anda mungkin tidak tahu apa yang mengganggu Anda, tetapi anehnya, Anda cukup yakin bahwa makanan adalah satu-satunya hal yang dapat menyembuhkan apa pun yang saat itu membuat Anda sakit. Jadi, ini sebenarnya “lapar emosional” atau “lapar beneran” (secara fisik) ya? Nah.. Ada beberapa tanda-tanda yang dapat membantu Anda membedakan antara rasa “lapar emosional” atau “makan akibat stres” dengan dari rasa lapar yang sebenarnya. Makan karena stres emosional biasanya datang tiba-tiba. Contohnya, saat Anda mulai merasa stres atau tegang, lalu “jreng!” Tiba-tiba Anda mendambakan martabak manis yang isinya meleleh dari penjual di seberang jalan itu. Sebaliknya, rasa lapar fisik cenderung datang secara bertahap. Meskipun Anda mulai merasa lapar, tapi Anda masih bisa menunggu untuk makan. Jadi, Anda punya waktu untuk memilih dengan bijak dan bisa memuaskan rasa lapar itu dengan sesuatu yang baik untuk Anda.“Stress Eating” biasanya menyebabkan keinginan untuk makan yang manis-manis, berlemak, tinggi kalori, dan sering spesifik. Misal, inginnya bukan cuma “cokelat”, tetapi sepotong cake yang coklatnya lapis tiga dari Toko di yang di seberang jalan itu. Sebaliknya, saat Anda lapar secara fisik, makanan, secara umum terdengar enak untuk Anda. Anda akan mau mempertimbangkan beberapa opsi yang bisa memuaskan rasa lapar fisik Anda, yang berarti Anda cenderung membuat pilihan yang lebih baik.Setelah rasa lapar fisik Anda terpuaskan, lalu perut Anda kenyang dan nyaman, itu adalah sinyal bahwa Anda sudah merasa cukup. Pada kondisi ini Anda cenderung berhenti makan. Tetapi, jika emosi adalah pemicunya, sinyal yang disampaikan oleh perut Anda mudah sekali terabaikan. Anda akhirnya makan terlalu banyak dengan harapan membuat diri Anda merasa lebih baik.Makan karena stres mungkin bisa memperbaiki suasana hati Anda untuk sementara waktu. Namun, setelah itu, rasa malu dan rasa bersalah sering kali muncul dengan cepat. Namun, saat Anda selesai makan yang memuaskan rasa lapar fisik Anda, biasanya setelah itu Anda tidak merasa bersalah. Tips Mengatasi Kebiasaan “Stress Eating” Bagi Anda yang kesulitan untuk menghilangkan kebiasaan ini, beberapa tips di bawah ini mungkin bisa membantu: Buat jurnal makanan. Jurnal makanan dapat membantu Anda melihat apa yang mungkin memicu Anda untuk “stres eating”. Kapan pun Anda merasa perlu makan, catat seberapa lapar Anda dalam skala 1 sampai 10 (1 = Saya bakal pingsan karena lapar; 10 = Saya terlalu kenyang sehingga harus melonggarkan pakaian). Kemudian, tulis perasaan Anda saat ini. Apa yang memicu kebutuhan Anda untuk makan? Apakah Anda benar-benar lapar? Atau Anda merasa sedih / cemas?Akui perasaan Anda. Anda tahu bahwa emosi adalah pemicu Anda melakukan “stress eating”, jadi… ya mending akui saja. Adalah normal jika terkadang Anda marah, takut, kesepian, atau bosan. Perasaan itu mungkin tidak menyenangkan, tetapi tidak berbahaya, dan Anda tidak selalu perlu “memperbaikinya”. Biarkan emosi Anda datang dan pergi tanpa menghakiminya. Emosi itu ya memang begitu.Tingkatkan keterampilan Anda dalam mengatasinya. Setiap kali Anda makan sebagai obat stres, itu hanya pengingat bahwa Anda belum mampu mengatasi emosi Anda. Saat stres melanda, coba tanyakan pada diri sendiri, “Hal terburuk apa yang akan terjadi jika saya tidak makan?” Tingkat stres Anda mungkin jadi sedikit meningkat, tetapi perasaan itu pasti juga akan berlalu. Jika Anda membiarkan diri Anda merasakan stres, mungkin saja Anda malah menemukan bahwa stres tersebut tidak seburuk yang Anda kira. Berlatihlah untuk toleransi terhadap emosi Anda, atau mencari cara lain untuk mengatasi stres Anda.Temukan alternatif selain makan. Luangkan waktu sejenak untuk merefleksikan perasaan Anda dan memikirkan cara untuk memecahkan masalah Anda. Buatlah daftar hal-hal yang dapat Anda lakukan selain makan. Misalnya, jalan-jalan untuk menjernihkan pikiran, mendengarkan musik, meditasi, membaca, atau menelepon teman untuk ngobrol panjang.Lupakan kebiasaan buruk Anda. Orang yang sering “emotional eating” selalu memperkuat pemikiran bahwa cara terbaik untuk mengatasi emosi negatif adalah dengan makanan. Dan seperti kebiasaan buruk lainnya, kebiasaan ini terjadi sebelum Anda sempat berpikir panjang. Misalnya, satu hari yang mengesalkan mungkin setara dengan lima jam nonton TV plus seliter es krim. Jadi, Anda perlu melupakan kebiasaan tersebut dan berlatih melakukan sesuatu selain makan ketika saat-saat seperti itu datang.Tunggu dulu. Pelaku “Stress Eating” sering kali takut jika mereka tidak memuaskan keinginan untuk makan, keinginan tersebut akan semakin kuat, semakin kuat, dan semakin kuat. Padahal, ketika ditunda, mereka sering terkejut juga bahwa dorongan itu ternyata bisa berlalu begitu saja. Daripada langsung menyerah pada keinginan Anda, berjanjilah pada diri sendiri bahwa Anda akan menunggu beberapa menit. Kemungkinan keinginan Anda tersebut akan teralihkan, atau Anda sibuk, akhirnya berlalu. Berbaik hatilah kepada diri Anda sendiri dan berikan waktu untuk mengatasi “stress eating”. Jika taktik ini belum berhasil untuk Anda, bisa juga Anda konsultasikan barangkali sesi konseling atau bimbingan kelompok bisa berguna untuk Anda. Semoga bermanfaat. -D.R. Tirtasujana- https://dietnutrisi.tirtasujana.com Disarikan dari artikel “How to Stop Stress Eating Right Now” oleh Susan Bowerman, M.S., RD, CSSD, CSOWM, FAND https://discovergoodnutrition.com/2020/04/stress-eating/ Nutrition