7 Kesalahan Diet Terbesar D.R. Tirtasujana, September 10, 2016April 16, 2026 Jujur saja, menurunkan berat badan itu tidak gampang. Iya kan? Sementara Anda baca tulisan ini sampai selesai, mungkin Anda juga bisa bayangkan bahwa masih banyak orang yang berjuang keras untuk membuang lemak yang bertumpuk dalam tubuhnya. Sebagian dari Anda pasti tahu bahwa rumus dasar sederhana untuk turun berat badan adalah dengan mengurangi konsumsi kalori. Kedengarannya simpel ya. Tetapi, kalau Anda mau menghitung kalori secara akurat (yang Anda konsumsi dan yang Anda bakar setiap hari), ternyata tidak semudah itu. Tapi ada hal lain yang lebih penting yang ingin saya sampaikan. Tahukah Anda bahwa, di luar masalah perhitungan kalori, banyak juga para pelaku diet yang melakukan kesalahan fatal sehingga dietnya gagal? Anda boleh ingat-ingat kembali diet yang pernah Anda lakukan. Jika pernah gagal, coba cek, bisa jadi Anda melakukan beberapa hal di bawah ini: 1. Melewatkan Waktu Makan Anda mungkin pernah berpikir untuk mengurangi kalori dengan cara mudah seperti menghindari sarapan atau makan malam. Benarkah cara ini bisa mengurangi kalori? Betul, dalam jangka pendek. Tapi belum tentu juga, terutama dalam jangka panjang. Kenapa? Karena melewatkan satu sesi makan bisa membuat Anda lebih lapar pada sesi makan berikutnya. Kemudian, pikiran juga membawa kesan untuk makan lebih banyak, misalnya, “gapapa lah makan siangnya banyak, kan hari ini gak sarapan”. Ujung-ujungnya, Anda kelebihan kalori juga. Sadarkah Anda bahwa pelaku diet yang sukses ternyata makan secara teratur, dan ditambah snack di antara waktu-waktu makan tersebut (jika jeda antara waktu makan lebih dari 4 jam)? Kalau begitu, apa yang Anda dapat dengan berusaha menghindari salah satu waktu makan? Kemungkinan besar adalah penumpukan kalori. Jadi, untuk sukses dalam diet, Anda boleh hindari cara ini. 2. Kurang Konsumsi Protein Kebanyakan pelaku diet sudah paham bahwa sayuran memiliki kalori rendah. Jadi, secara membabi buta mereka memperbesar porsi makan sayurnya, dan memperkecil porsi makanan lainnya. Sudah dengan begini mengurangi kalori? Apakah efektif? Kenyataannya, dengan pola ini, Anda berpotensi kekurangan protein. Dan, tanpa protein yang cukup, Anda pasti cepat lapar karena protein lebih mengenyangkan dibanding lemak dan karbohidrat. Kalau setelah makan Anda lapar lagi, kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya? Nah, itu dia… Anda sudah paham kenapa cara ini pun bisa menggagalkan diet Anda. Jadi, Anda perlu pastikan kehadiran protein dalam sesi makan Anda, termasuk dalam snack yang Anda konsumsi sehari-hari karena ini membantu diet Anda. 3. Kurang Konsumsi Karbohidrat Pernah lihat orang yang sedang diet mengurangi konsumsi karbohidrat? Atau Anda sendiri pernah melakukannya? Sekilas ini juga bisa mengurangi kalori dan membuat diet menjadi efektif. Tapi, kalau sampai “kebablasan” membenci karbohidrat, dalam jangka panjang konsmsi karbohidrat Anda juga akan terlalu rendah. Secara tidak langsung Anda menghindari karbohidrat yang sehat juga (misalnya buah dan sayur yang tinggi antioksidan). Ingat, Anda butuh karbohidrat juga dari sayur dan buah sebagai bahan bakar bagi aktivitas Anda, serta tentunya serat yang sehat dan mengenyangkan. 4. Tidak Mencatat Apa Yang Dikonsumsi Sambil membaca ini, Anda boleh jadi sudah punya rencana umum apa yang akan dimakan dan merasa tahu berapa banyak yang dimakan, setidaknya dalam pikiran Anda. Jadi, Anda merasa tidak butuh untuk mencatat atau menuliskannya. Namun, perlu Anda sadari juga bahwa sebesar apapun rencana Anda, kemungkinan besar Anda akan tetap lupa pada yang kecil-kecil… makanan ekstra… cemilan kecil sepanjang hari… makanan yang porsinya lebih dari biasanya (nambah karena enak)… bumbu-bumbu, kuah nasi padang, sambel… kerupuk, keripik, peyek, emping… Anda pasti setuju bahwa orang kesandung biasanya karena batu yang kecil, kalau batunya besar sudah kelihatan, jadi bisa dihindari. Dalam diet juga begitu. Yang bikin diet gagal bukannya makanan siang atau makan malam yang sangat berlebihan, tapi cemilan-cemilan dan hal kecil lain yang mengiringi Anda sepanjang hari, apalagi kalau dilakukan dengan prinsip “dikit tapi sering”. Catatan yang baik, setelah beberapa waktu, memudahkan Anda mengevaluasi kenapa diet Anda tidak berhasil. Jadi, pencatatan ini penting untuk Anda jadikan kebiasaan, kecuali ingatan Anda sudah sekuat memori komputer. Mau langsing kan? Catat. 5. Menyangka Semua “Makanan Berlabel Sehat” Pasti Rendah Kalori Sering lihat iklan atau label makanan yang ada tulisannya “Low Fat” atau “Sugar Free”? Apa yang pikiran Anda rasakan ketika mendengar kata tersebut? Kalau tidak waspada, Anda bisa terjebak dalam asumsi Anda sendiri untuk tidak khawatir terhadap jumlah kalorinya. Jadi, asumsinya, makan sebanyak-banyaknya juga tak mengapa. Benarkah ini membantu diet? Hati-hati. Jangan dipikir kalau ada label “low fat” atau “sugar free” lalu kalori jadi gak penting lagi. Padahal, kalori yang masuk dari makanan sejenis itu tetap saja terhitung. Coba lihat contoh ini. Anda menemukan makanan berlabel low fat, tanpa memperhatikan bahwa ternyata karbohidratnya tinggi, jadi dengan bahagia Anda banyak-banyak konsumsi. Akhirnya, kalori yang masuk juga tinggi, dan seperti Anda mungkin ketahui, kelebihan kalori akan disimpan dalam bentuk lemak oleh tubuh Anda. Nah, karena itu, untuk menghindari salah asumsi, sering-seringlah mengintip label nutrisi pada kemasan agar tahu jumlah kalori dan kandungan nutrisi, serta lebih bijaksana dalam mengkonsumsi 6. Berusaha Melakukan Perubahan Secara Kilat Kalau Anda uraikan satu persatu, saat seseorang mulai berdiet, sebenarnya banyak hal yang harus dilakukan atau gaya hidup yang harus diubah. Mengganti jenis sarapan, memilih apa yang dikonsumsi, menghindari/membatasi makanan tertentu, minum air putih yang banyak, tidur yang cukup, mulai beraktifitas fisik, dan lain-lain. Ada memang beberapa orang yang sanggup langsung berubah drastis seperti itu, tapi kebanyakan tidak. Anda sendiri mungkin berpikir untuk mencari cara diet yang lebih sederhana, sehingga tidak perlu merasakan sengsaranya perubahan yang drastis. Karena itu Anda bisa pilih untuk membuat perubahan kecil dulu, step by step, misalnya mulai dengan mengganti sarapan dan makan malam. Cukup sampai di situ. Lalu, setelah beberapa hari, tambahkan kebiasaan positif lain dari waktu ke waktu, misalnya mulai meningkatkan konsumsi air putih, lalu berikutnya mulai olahraga satu gerakan, lalu tambahkan lagi, lagi, dan lagi… Lama-lama Anda akan terbiasa dan perubahan besar telah terjadi tanpa terasa. 7. Salah Memprediksi Kalori Yang Terbakar Saat Olahraga Sadarkah Anda, berdasarkan sebuah studi, ternyata orang sering kelebihan memperkirakan kalori yang terbakar saat olahraga? Rata-rata sebesar 25% lebih tinggi! Beberapa orang berpikir, kalau sudah lari sore keliling komplek (padahal dia lupa bahwa kompleknya berisi rumah-rumah mungil, jadi larinya sebenarnya dekat saja), bisa membakar kalori dari nasi padang siang tadi. Pernahkah Anda renungi berapa kalori seporsi nasi padang? Apa dan berapa lama olahraga yang sepadan untuk membakar kalori tersebut? Saya yakin Anda bisa cari tahu sendiri, dan meskipun belum tahu sudah terbayang kira-kiranya. Intinya, jangan terlalu mengandalkan prediksi sendiri tentang olahraga yang membakar kalori. Tubuh Anda lebih banyak dibentuk di meja makan dibanding di gym. Karena, meskipun untuk diet yang sehat olah raga sangatlah penting, apa yang Anda konsumsi lebih penting lagi. Disarikan dari artikel “7 of the biggest dieting mistakes” oleh Susan Bowerman, MS, RD, CSSD, FAND https://discovergoodnutrition.com/2011/03/7-of-the-biggest-dieting-mistakes Nutrition